Menganalisis unsur-unsur instrinsik novel Indonesia atau terjemahan
Si
Kecil yang Terluka
Karya: Nani Setyawati
1.
Tema :
Lingkungan Hidup
2. Alur : Maju
Bukti:
Novel “Si Kecil yang Terluka” tersebut menceritakan awal kejadian ketika tokoh “Kinit”
sedang lulus SMU, ketika saat itu pula ayahnya meninggal dunia. Oleh karena itu
Kinit menggantikan ayahnya untuk menghidupi ibu dan adiknya. Setiap hari, Kinit
pergi ke ladang. Suatu hari saat ia pulang dari ladang, ia melihat induk orang
utan bersama anaknya yang terjebak dalam kebakaran hutan. Kinit pun menolongya,
namun sayang sang nduk pun mati. Lalu Kinit merawat anak orang utan tersebut
hingga sembuh total dan melepaskannya kembali ke hutan.
3. Penokohan:
a. Kinit,
memiliki watak baik, bertanggung jawab, suka menolong.
Bukti: Kinit merasa bertanggung
jawab menggantikan posisi ayahnya yang sudah meninggal. Kinit tetap merawat
anak orang utan yang diemukannya walau masyarakat tidak menyukainya.
b. Mama
Kinit, memiliki watak yang tekun.
Bukti: “ perempuan itu dengan tekun
menungguinya.”
c. Utuh,
memiliki watak yang penyayang
Bukti: Utuh ikut merawat orang utan
dengan penuh kasih sayang.
d. Pak
Persi memiliki watak suka menolong
Bukti: Pak Persi menolong pak
rambang yang jatuh dari pohon.
e. Pak
Rambang, memiliki watak yang bertanggung jawab, baik hati dan cinta lingkungan.
Bukti: Pak Rambang setiap hari
pergi ke ladang untuk bertani, mencari kayu bakar dan mencari ikan di sungai
untuk menghidupi keluarganya. “Sepengetahuan saya, Pak Rambang adalah orang
yang baik hati dan cinta lingkungan.”
f. Pak
Peyang, memliki watak pendendam.
Bukti: “Yang tidak mungkin, bisa
jadi mungkin pak. Meskipun demikian, saya tetap dendam dengan orang utan,” kata
pak Peyang yang sangat membenci orang utan.
g. Tetua
adat Desa Kasintu, memiliki watak bijaksana.
Bukti: “. . . itu kan sudah takdir
Yang MahaKuasa. Sekarang yang paling penting, kta berdoa semoga almarhum
diterima di sisi-Nya,” sela tetua adat Desa Kasintu.
4. Setting
atau Latar:
a. Tempat:
·
Lapangan
Bukti:
“Dedaunan berguguran, mengotori lapangan berumput hijau.”
·
SMU Bumi Isen Mulang Tewah
Bukti:
“Remaja bermata sipit itu melewati dua pagar penyanggah yang papan bertuliskan
SMU Bumi Isen Mulang Tewah.”
·
Sungai Kahayan
Bukti:
“Sampan yang tertambat di tepi sungai Kahayan segera ia lepas.”
·
Rumah keluarga Rambang
Bukti:
“Dari luar, rumah keluatga Rambang terlihat sepi.”
·
Desa Kasintu
Bukti:
Desa Kasintu adalah desa dimana Kinit bertempat tinggal.
·
Kebun tengkawang
Bukti:
“Kinit beranjak ke kebun tengkawang.”
·
Ladang
Bukti:
“Kehadiran Kinit di ladangternyata mengundang burung elang yang terbang
melayang-layang. . .”
·
Hutan
Bukti:
Ketika Kinit pulang dari ladang, ia pergi dahulu ke hutan untuk melihat
kebakaran.
b. Waktu:
·
Pagi hari
Bukti:
“Pancaran bola emas dari ufuk timur terhalang oleh kabut asap kelabu. Angin
pagi berhembus sesaat…”
·
Malam hari
Bukti:
“Alunan suara jangkrik d samping rumah pun ikut mewarnai suasana malam itu.”
·
Selama musim kemarau
Bukti:
“Selama musim kemarau, wajar jika binatang-binatang itu berkeliaraan mencari
makan.”
c. Suasana:
·
Gembira
Bukti:
“Mereka saling memadukan telapak tangannya dan meloncat-loncat kegirangan. . .”
·
Menegangkan
Bukti:
“Keringat mengalir deras di pelipis dan lehernya. Jantungnya berdegup kencang.”
·
Sedih
Bukti:
“Air mata Kinit tak terasa berlinang. Ia tak kuasa menahan kekecewaan karena
ladangnya itu meningatkannya pada keuletan mendiang bapaknya.”
5. Amanat:
a. Kita
harus menjaga kelestarian lingkungan kita, agar tidak terjadi kepunahan
terhadap flora dan fauna yang ada di lingkungan kita.
b. Sesama
makhluk hidup, hendaknya kita saling menolong.
6. Sudut
Pandang: Orang ketiga pelaku utama
Bukti:
penulis menceritakan pengalaman tokoh “Kinit” sebagai pelaku utamanya.
7. Nilai:
a. Nilai
Kebudayaan:
·
Membunyikan garantung tiga kali/titih ketika ada orang meninggal dunia.
Bukti:
“Pemuka masyarakat membunyikan garantung tiga kali. Kemudian terdengar titih/garantung tiga kali yang dibunyikan
secara bersahutan. . . Berita kematan Pak Rambang dengan cepat tersebar.”
·
Menggunakan kata sapaan ikau untuk menyapa orang kedua.
Bukti:
“Orangnya, ikau Kinit, kah!” teriak
seseorang dari belakang Kinit.
b. Nilai
Religius
·
Masyarakat selalu berserah diri kepada
Allah SWT dalam menghadapi cobaan
Bukti:
“. . . itu kan sudah takdir Yang MahaKuasa. Sekarang yang paling penting, kta
berdoa semoga almarhum diterima di sisi-Nya,” sela tetua adat Desa Kasintu.
c. Nilai
Sosial
·
Masyarakat saling menolong apabila ada
salah satu warganya ada yang kesusahan
Bukti:
masyarakat berduyun-duyun datang ke rumah Pak Rambang untuk mebantu keluarg
yang baru ditinggalkannya.
d. Nilai
Moral
·
Mengajarkan untuk bersikap sopan
terhadap sesame meskipun orang tersebut tidak suka terhadap kita.
Bukti:
Kinit tetap bersikap sopan terhadap orang-orang yang telah mencelanya karena
Kinit memelihara orang utan yang dianggap masyarakat sebagai hewan yang
membahayakan.
Kutipan
KUTIPAN
Tujuan
Untuk
menegaskan isi uraian atau unuk membuktikan apa yang dikatakan penulis.
Kutipan:
Pinjaman kalimat/pendapat seorang pengarang atau ucapkan
seseorng yang terkenal, baik terdapat dalam buku maupun majalah-majalah.
Jenis
Kutipan
1. Kutipan langsung
Pinjaman pendapat dengan mengambil secara lengkap kata dem kata, kalimat demi kalimat dari sebuah teks asli.
2. Kutipan tak langsung
Pinjaman pendapat seorang pengarang atau tokoh terkenal berupa intisari atau ikhtisar dari pendapat tsb.
Prinsip-prinsip
mengutip
1. Jangan mengadakan perubahan
2. Bila ada kesalahan, beri perbaikan dalam tanda kurung kotak atau diberi tanda [sic] dibelakang kata yang salah tersebut.
3. Menghilangkan bagian kutipan dengan tiga titik berspasi [. . .].
Contoh:
Pada musim penghujan seperti ini,
banyak petani cabai yang kesusahan karena cabai-cabainya busuk terkena air hujan
yang berlebihan. Akibatnya, harga cabai melonjak drastis dan menyebabkan para
pedagang gulung tikar, belum lagi para konsumen. Untuk itu perlu penangan
khusus untuk membudidayakan cabai pada musi penghujan.
Salah
satu cara budidaya cabai yang cocok diterapkan pada musim hujan adalah dengan
menanamnya di kantong plastik atau di dalam pot ember. Penanaman cabai di dalam
kantong plastik ini dapat dilakukan di dalam greenhouse dengan sistem hidroponik, bisa juga dilakukan di tempat
terbuka dengan menggunakan media tanah dan pupuk kandang serta perlakuan
perawatan seperti pada penanaman di
lahan dengan menggunakan mulsa plastik. (Wiryanta, 2006: 67).
Berbeda dengan tanaman cabai, pacar
air justru akan tumbuh dengan baik pada musim penghujan, karena pacar air hidup
di tempat lembab dengan cukup matahari atau sedikit terlindung. Selain itu
perawatan pacar air juga lebih mudah dibandingkan dengan cabai.
Perbanyakan tumbuhan pacar air dengan menggunakan
biji. Pacar air dirawat dengan disiram air yang cukup, dijaga kelembapan
tanahnya, dan dipupuk dengan pupuk dasar. Tumbuhan ini memerlukan tempat yang
cukup matahari atau sedikit terlindung. (Hariana, 2007: 151).
Cahaya merupakan faktor yang sangat besar
pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman. Sedangkan memilki berbagai jenis
warna yang dihasilkan oleh benda yang dilaluinya.
Saat
cahaya menabrak atom, elektron menjadi tereksitasi (elektron menyerap energi
dari cahaya dan bergerak menjauhi inti atom). Kemudian, elektron kembali ke
posisinya semula dan melepaskan energi sebagai cahaya. Warna cahaya yang
dilepaskan oleh atom tergantung pada seberapa jauh jatuhnya elektron dari inti.
Jika elektron jatuh pada jarak jauh, atom melepaskan cahaya berenergi tinggi. (Nujatmika,
2011: 19).
Cara
Menulis Bibliografi (Daftar Pustaka)
1. Mengurutkan penulisan berdasarkan abjad.
2. Daftar pustaka tidak diberi nomor urut.
3. Jika nama penulis terdiri atas dua atau lebih kata maka unsur nama yang palng akhir dibalik lalu diberi tanda koma.
4. Urutan penulisan identitas buku yaitu nama pengarang, tahun terbit, judul, tempat, dan penerbit.
5. Setiap akhir unsur diberi tanda titik kecuali setelah kota terbit diberi tanda titik dua.
6. Judul dicetak miring atau diberi garis bawah.
7. Gelar pengarang buku tidak ditulis.
8. Apabila panjang identitas buku melebihi satu baris maka penulisan baris kedua dan menjorok ke dalam sebanyak 3 huruf.
9. Apabila nama pengarang buku lebih dari 3, maka hanya ditulis nama yang pertama, lalu koma dan ditulis (dkk.) atau (et al).
10. Setiap pergantian sumber/referensi diberi spasi satu kali.
11. Jarak/spasi pengetikan bibliografi yaitu single (1).
12. Apabila nama pengarang sama, maka selanjutnya diganti dengan garis sepanjang tujuh huruf atau sepajang nama.
13. Pegurutan nama pengarang yang samayang sama berdasarkan tahun terbit.
14. Pegurutan nama pengarang yang sama, tahun terbit sama, tetapi judul berbeda maka pengurutannya berdasarkan abjad judul.
15. Sebelum pengetikan tanda baca tidak ada spasi.
Contoh:
Hariana, Arief.
2007. Tumbuhan Obat dan Khasiatnya.
Depok: Penebar Swadaya.
Nujatmika,
Yusep. 2011. Buku Pintar Sains Bumi dan
Alam Semesta. Jogjakarta: DIVA Press.
Wiyantara,
Bernandius T. Wahyu. 2006. Bertanam Cabai
pada Musim Hujan. Tangerang: PT. AgroMedia Pustaka.